Bagaimana Tes Psikometrik membantu HR dalam proses rekrutmen?

Di era yang serba cepat ini, “menyusun prediksi” menjadi aktivitas yang esensial. Banyak orang membuat prediksi terkait kondisi ekonomi, politik, dan terutama pencapaian target bisnis perusahaan. Pada konteks HR, aktivitas prediksi pada dasarnya sudah sering dilakukan. Biasanya terkait dengan prediksi mengenai kecocokan individu terhadap pekerjaan, kemampuan individu untuk beradaptasi terhadap perubahan, dan lain sebagainya.

The Society for Industrial & Organizational Psychology (SIOP) menyatakan bahwa hanya 68% perusahaan yang aktif melakukan pengetesan terhadap calon karyawannya. Adapun 29% nya fokus pada tes psikometri, dan 20% nya fokus pada tes potensi kecerdasan saja.

Dalam konteks organisasi, aplikasi tes psikometri terdiri dari beberapa segmen, yakni :

1. Rekrutmen

2. Training & Development

3. Organizational Planning

4. Performance Evolution

5. Employee Engangement

Di artikel ini, kita akan membahas proses pertama yaitu Proses Rekrutmen: Dalam proses rekrutmen, tes psikometri membantu rekruter untuk memahami aspek-aspek dalam diri individu yang menentukan performance mereka di pekerjaan. Penting untuk mendapatkan gambaran tentang kandidat mana yang diprediksi memiliki probabilitas tertinggi untuk dapat sukses di pekerjaan jika diterima.

Menurut Personal Testing Council Metropolitan Washington Chapter di tahun 2014, korelasi antara hasil tes psikometri dengan performance (kinerja yang ditampilkan) individu ketika bekerja mencapai 0.71. Korelasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa metode seleksi lainnya seperti interview, reference check, dan tes-tes yang hanya mengukur tipe kepribadian. Namun demikian perlu diingat, bahwa tes psikometri yang digunakan haruslah disusun secara sistematis, dan menggunakan lebih dari 1 metode pengukuran (multi-measure), dan melalui proses yang sesuai dengan metodologi yang benar, untuk memastikan reliabilitas dan validitasnya.

Grafik koefisien korelasi dari beberapa metode pengukuran dalam rekrutmen, dengan performance ketika bekerja. Terlihat bahwa Tes Psikometri merupakan predictor tertinggi untuk mengetahui performance individu. Tentunya proses rekrutmen adalah bertahap. Perusahaan dapat menentukan sendiri tahapan dalam proses seleksi. Tes psikometri dapat menjadi salah satu tahapan untuk menyeleksi kandidat yang potensial untuk masuk ke tahapan berikutnya.

Koefisien korelasi bergerak dari 0 sampai dengan 1. Semakin tinggi nilai koefisien korelasi, semakin baik dalam kemampuan memprediksinya.

Nah, bukankah Tes Psikometrik dapat membantu Perekrut untuk merekrut orang yang tepat untuk perusahaannya?